13.5.19

Hati Yang Tertinggal di Warsambin

Been stressing out this week...

Banyak task yang harus sesegera mungkin diselesaikan but i don't, lalu menulis blog bisa jadi salah satu aksi untuk mendistraksi. Uwuw.

Sembari membuka folder berjudul "Warsambin", saya masih inget saat dimana pertama kali menapakkan kaki disana. Disuguhi Teluk Mayalibit dari kejauhan dan sinar matahari yang menusuk. Huhu aku rindu!

Warsambin !

Dalam rangka menjadi relawan pada kegiatan YOUCAN EMPOWER (YE) Raja Ampat yang di selenggarakan oleh organisasi nonprofit YOUCAN Indonesia, saya beserta peserta lainnya yang terpilih (circa 50an orang mungkin keseluruhan) dibagi atas tiga team dan disebar ke tiga tempat berbeda ; Tim 1 Warsambin, Tim 2 Bonkawir, Tim 3 Warengkris. Kami sebelumnya ikut seleksi dulu tuh baru diumukan di email masing-masing baru koordinasi lewat grup whatsapp.

Persiapan dilakukan mulai H-3 bulan pelaksanaan mulai pemilihan koordinator umum, koordinator divisi sampai penyampaian proker masing-masing divisi. Dari pihak YOUCAN juga memfasilitasi proposal-proposal beserta format-format penulisan surat guna pengajuan dana ke sponsor maupun kampus. Waktu itu YE ada dua lokasi yaitu Toraja Makassar dan Raja Ampat, untuk yang Makassar menggunakan transpo udara dan Raja Ampat menggunakan transpo laut.

Lamanya program 3-5 hari, prokernya kita-kita sendiri yang bikin dengan persetujuan oleh fasilitator per tim (ada dua fasil per tim nya). Divisi-divisinya sendiri ada Pendidikan, Ekonomi, Lingkungan, dan Kesehatan. Waktu itu saya memilih untuk gabung di Divisi Ekonomi, ya kurang lebih semacam KKN lah ya untuk yang udah pernah KKN pasti ngerti.

Fasil dari YOUCAN juga sangat membantu mulai dari keberangkatan sampai pulangnya, hampir gada miss dan sangat bertanggung jawab :') detail dari program YE ini bisa temen-temen cek di instagramnya langsung @youcan.id atau web nya, karna programnya ga cuma satu jadi ada beberapa program pengabdian dengan lokasi yang berbeda-beda pula.

Sekian intermezzo tentang programnya, kita lanjut ke lokasi pengabdiannya.

BACA JUGA : BACKPACING KE RAJA AMPAT?

Warsambin sendiri masuk distrik Teluk Mayalibit Kabupaten Raja Ampat, letaknya paling jauh dari dua desa pengabdian lain dan 90%nya warga asli suku mayalibit dan sisanya pendatang dari maluku dan sulawesi. Sedangkan di dua desa lainnya mayoritas pendatang dari jawa dan sulawesi begitu.

Nyebur!
Desa ini istimewa. Letak pemukimannya cuma satu garis lurus dan berhadapan, punya teluk yang masih bening dan minim sampah bahkan coral-coral cantiknya masih kelihatan tanpa harus nyebur. Penduduk lokalnya ramah, waktu melakukan social mapping  hampir semua warganya bersifat terbuka. Cerita-cerita tentang nenek moyang mereka dan legenda buaya yang pernah beberapa kali makan manusia disana kalau melanggar aturan adat dan lainnya.


Selain punya Teluk Mayalibit sebagai salah satu opsi wisata, desa ini juga punya Kalibiru sebagai tombak wisata utama. M Kalau mau menuju kesana dengan kendaraan umum dari Waisai bisa pakai Bus Damri ke arah Warsambin yang satu hari cuma beroperasi dua kali ; jam 09.00 WIT dan jam 14.00 WIT.

Ketika sampai Warsambin bisa ke loket sekitar untuk menuju ke Kali Biru, sudah dikelola oleh warga sekitar. Kata temen-temen disana "rugi kalo kesini tapi ga ke Kalibiru, Malinda Cinta Satu Malam dan Nadine Chandrawinata sudah pernah kesana". Letaknya bukan pas di Warsambinnya, tapi kita harus naik perahu dulu kurang lebih 15 menit lalu trekking sekitar 10 menit dan sampai lah di Teluk Mayalibit! Waktu itu kita rame-rame sama warga kesana, nyebur dan berenang, airnya kaya es super dingin dengan warna biru kristal. Bagus banget! Menurut legenda sekitar, kali biru ini dulunya digunakan untuk mandinya Suku Mayalibit sebelum berperang begitu.


Trekking & nyebrang sungai


Sudah terfasilitasi gazebo dan kamar mandi

Kitorang su sampaii

Syeegarr

Kita bekal konsumsi makan siang dan jajan yang dibawa dari Jawa (alhamdulillah masih ada huhu) dan bawa degan yang diambilkan papa, ambil degan banyak sekali hahaha. Syegar yang haqiqi!

Selain itu, di desa ini juga kearifan lokalnya masih sangat terjaga meskipun kena terpaan dari luar. Penduduk Warsambin mayoritas nelayan ikan lema, ada juga beberapa guru, petugas kesehatan, dan lain-lain. Saya sempet ketemu kus-kus yang sudah sangat langka dan burung nuri. Sangat senang bisa bertemu binatang endemik Indonesia timur sana!

Kus Kus lucuuuu
Yah begitulah sisa-sisa memori yang masih saya ingat, semoga bisa segera kembali kesana!

hehe

Wawa Yasaruna's

2 komentar:

  1. serunyaa ikut program begitu trs lokasi programnya di "surga".. aku waktu ke waisai nggak sempat ke kalibirunya euy..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, iya nih! Sayang bgt padahal dari waisai relatif dekat yaaa :')

      Hapus