2.8.18

One Day in : Lombok Tengah

Ngomong-ngomong karena ini adalah kali pertama saya menginjak tanah Lombok saya excited banget dong! Kebetulan jarak antar satu kota ke kota yang lain memang gak terlampau jauh, jadi kemana-mana pakai motor masih kami rasa aman.  Di Lombok entah kenapa destinasi utama kami di sekitaran Lombok Tengah, mungkin karena banyak ikon-ikon wisata yang sering terkspose media. Pasrah mengikuti jalur, semoga kali ini Lombok bersahabat.

Salah satu sudut di Desa Sade


Sedikit cerita, ketika hampir sampai di Pelabuhan Padang Bai (sekitar pukul 18.00 WITA) hujan deres dan gak berhenti-berhenti. Jadinya kami neduh cukup lama dan pada akhirnya nekat berbasah-basahan dan kebetulan sekali kapal mau berangkat menuju Pelabuhan Lembar Lombok. Kunci  tiba-tiba hilang ketika masih tertancap di motor, sehingga tidak kami matikan selama perjalanan Bali-Lombok di kapal biar bisa tetep digunakan. Besoknya sesampainya di Lombok pukul 04.00 WITA dan masih hujan, kami menerjang badai dari Lombok barat ke Mataram dan masih kuyup. Buruknya lagi ketika kami sudah siap keliling Pulau Lombok, hujan gak berhenti-berhenti dan kata orang sekitar memang Lombok sedang hujan 24 jam tanpa henti. Menangos.

Kami tetep kekeuh untuk pergi meskipun pada akhirnya neduh juga, cari warkop di daerah Lombok susah juga ya. But we enjoyed the trip! Nekat berhujan-hujan sembari mengunjungi dua desa adat disana, eh gatau nya ketika di Desa Sade tiba-tiba matahari muncul dengan cantiknya! Terharu dooongggggg.

Desa Sade

Desa ini sudah full digunakan untuk keperluan komersial karena setiap rumah adalah "toko kain tenun". Meskipun begitu saya nggak menyesal sama sekali karna masih bisa melihat secara langsung bagaimana Suku Sasak hidup di masa lampau dan segala pernah perniknya. Mulai dari cerita bagaimana susahnya berpacaran ala-ala backstreet sampai kebiasaan orang sana yang membersihkan lantai menggunakan kotoran sapi.

Interior rumah sasak, masih bau poo sapi lalala

Pohon cinta, tempat suku sasak di masa lampau bertemu dan diculik

Desa Ende

Di Desa Ende saya berkesempatan melihat Tari Peresehan yang di perankan dua sesi yaitu laki-laki desawa dan anak kecil laki-laki. Tari ini merupakan wujd pertahanan diri Suku Sasak, tariannya seperti sedang bertarung. Properti yang digunakan berbentuk persegi empat dengan bahan utama kulit sapi dan sejata.

Tari Peresehan


Rumah Ende
Waktu sudah menunjukan pukul empat WITA , dan kami bergegas cari pantai karena masih kedinginan 24 jam kehujanan, cari tempat lapang biar kering pakaian. Nah, ternyata Lombok Tengah ini surganya pantai-pantai jadi bisa jadi destinasi utama para wisatawan.

Jadi tempat apa aja yang bisa di tuju ?

Pantai Kuta Mandalika

Kalau lihat di maps, Pantai Kuta Lombok merupakan jalan utama untuk menuju ke pantai-pantai favorit lain. Jadi istilahnya ini sebagai pintu sebelum ke tempat-tempat epic lainnya.

Tanjung Aan dan Bukit Meresse

Tanjung Aan!
Kawasan wajib untuk dikunjungi wisatawan, selengkapnya bisa dibaca di sini.

Pantai Seger

Pantai Seger sendiri juga masih berdekatan dengan Tanjung Aan, ada bukit sehingga kita bisa naik keatasnya. Disini kita ketemu mas-mas penyelenggara Festival Bau Nyale, yaitu peringatan setahun sekali untuk mencari "nyale" atau cacing di sekitaran Pantai Seger, yang konon katanya adalah jelmaan putri nyale. Cacingnya warna warni dan keluar di saat tertentu aja, maka dari itu diadakan festival seperti ini setahun sekali.






Pantai Mawun

Ketika sudah mulai gelap kita ke destinasi yang paling jauh yaitu Pantai Mawun, sebenarnya kalau lagi cerah bagus tapi kita kesanawaktu sudah gelap dan gak lama kemudian diguyur hujan deras huhu. Ada fasilitan kursi + payung pantai yang dipatok harga Rp 40.000 per jamnya.



Selain rekomendasi diatas masih banyak tempat-tempat well known lainnya di Lombok Tengah seperti Selong Belanak, Pantai Mawi, Telawas, dan Tampa. Yang jelas pantai-pantai dikawasan ini memang ramai pengunjung khususnya mancanegara.

Jadi, kapan mau ke Lombok Tengah ?

hehe

Wawa Yasaruna's



No comments:

Post a Comment