10.2.18

Kedaton Ternate yang tak Bersultan

Sengaja mancing pakai laut-laut sebagai prolog kisah-kisah di Ternate biar netizen tau dulu kondisi geografisnya #halah. Salah satu yang paling saya suka ketika menjelajah suatu kawasan adalah menyelami budayanya, karena hal ini bakal bikin saya semakin kaya secara lahir maupun batin bukan secara materi. Saya bisa research langsung dan menikmatinya dengan mata kepala sendiri.

Terlepas dari laut-laut Ternate di postingan kemarin, kali ini saya bakal bagi heritage-nya yang jelas sangat kontras dengan heritage Jawa.

Kedaton Ternate sendiri merupakan peninggalan kerajaan islam pada abad penjajahan dulu, tau sendiri kan Ternate-Tidore tidak asing di telinga kita karena sejak sekolah dasar (SD) kita sudah dijejali sejarah kemerdekaan Indonesia. Kayanya bumi Maluku Utara ini akan rempah-rempah menjadi salah satu pintu masuk kolonel dan kawan-kawan penjajah lainnya lewat jalur laut Filipina. Selain itu Ternate-Tidore juga salah satu tempat tersebar pesatnya agama islam di Maluku, maka dari itu timbulah kerajaan Ternate dan Tidore guna meluluhlantakkan Portugis.


Nah, terus kenapa dinamakan kedaton? Apa bahasa "sana" nya keraton atau ada arti tersendiri?



"Keraton" kata dasarnya dari "raton" atau ratu. Jadi pemegang kekuasaan adalah perempuan. Kalau "Kedaton" dari kata dasar "daton" atau perkasa, itu artinya pemegang kekuasaannya adalah laki-laki atau biasa disebut Sultan. Ini menurut salah satu narasumber sejarawan yang juga dosen di Universitas Unkhair Ternate waktu menjelaskan heritage nya Ternate. Setelah berpindah-pindah selama kurang lebih empat kali, akhirnya ditetapkan ke tempat yang sekarang ini.

Sultan Ternate yang terakhir tutup usia pada tahun 2015 kemarin dan sampai sekarang belum ada penerusnya. Hal ini dikarenakan mendiang Sultan memiliki empat istri dan terjadi perebutan tahta, jadi gabisa ketemu Sultannya karena Sultannya belum ada.

Terus apa dong kegiatan disana secara belum ada pemimpin barunya?

Kegiatan Kedaton masih sangat aktif, hal-hal didalamnya dilaksanakan oleh Ma-Co Ou atau istilahnya "Abdi Dalem" nya kedaton. Yang boleh menjabat sebagai Ma-Co Ou adalah keturunan abdi dalem seelumnya. Ada yang laki dan ada yang perempuan, keduanya sama-sama menjaga Kedaton karena belum adanya Sultan.

Bapak Phillip selaku Ma-Co Ou masa kini
Untuk Ma-Co Ou perempuan setiap hari Minggu, Rabu, dan Kamis melakukan pemotongan Bunga Rampe (tujuh bunga yang dimasukan ke daun pisang dan dipotong kecil-kecil) untuk disebar atau nyekar ke makam-makam Sultan sebelumnya pada malam Senin, Kamis, dan Jumat.



Terdapat satu prasasti yang bercerita tentang bagaimana Kedaton ini dibuat. Selain itu ada juga salah satu Ruang Puji yang berisikan satu mahkota, tentunya tempat ini ga boleh dimasuk pengunjung. Semua keluarga Sultan sampai danu (cucu-cicit) tinggal diaini sehingga kalau sore terkadang rame bocah-bocah main bola, danu-danu Sultan ini juga mengajak teman-temannya diluar kawasan kesultanan baut main seperti manusia pada umumnya kok.


Waktu itu saya memisahkan diri dari temen-temen fotografer lainnya dan ditemani Kaka Fandi sembari ditunjukan salah satu situs mata air yang dulunya ramee banget dibuat mandi masyarakat Ternate dan dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit, namanya Ake Santosa.

Ake Santosa
Berswafoto di depan Kedaton, yuhu!
Jad sampai sekarang masih belum ada aktifitas kesultanan karena masih belum terpilihnya pengganti Sultan sebelumnya, tapi kawasan ini tetap buka kok sebagai caagr budaya. Meskipun begitu kita tetep harus hati-hati kalau berkunjung jangan sampai mengganggu kegiatan Ma-Co Ou dan keluarga bangsawan didalamnya.

hehe

Wawa Yasaruna's

2 comments:

  1. amazing, keren wawa.. semoga di tambah ilmunyaaa

    ReplyDelete
  2. Aamin, makasi juga waktu nya kakafandiii 😬😬😬

    ReplyDelete