24.6.17

TNBTS Berbunga-Bunga



TNBTS (Taman Nasinal Bromo Tengger Semeru) yang berlokasi di 4 Kabupaten sekaligus (Malang,Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang) sedang berbunga-bunga! Jarak dari rumah saya ke TNBTS sendiri cukup dekat, bisa ditempuh sekitar satu setengah jam, kalau dari pusat Kota Malang sekitar 45 km saja.

Ceritanya.

Ada salah satu temen blogger kece yang udah terkenal buanget Mbak Ghea Safferina baru aja melaksanakan resepsi pernikahannya di Malang dan akhirnya Mbak Talita temen dari Jember dateng deh ke Malang dan sekalian main bareng. Kita bertiga (Saya, Mbak Ghea, dan Mbak Talita) sendiri udah pernah main bareng sebelumnya, keliling Jember setahun yang lalu.

Naaah, setelah menghadiri resepsi pernikahan Mbak Ghea besoknya saya dan Mbak Talita langsung deh berangkat main. Awalnya bingung banget mau kemana, ke Batu, ke pantai, atau kemana. Kami berdua akhirnya memustuskan untuk ke TNBTS meskipun ga ke Bromonya hehe.

Berangkat dari Malang jam tujuh pagi kita otewe dengan santai, sih karena medannya masih aman-aman aja dan cuacanya enak iyup ga panas gitudeh. Sampai di TNBTS kita bayar sekitar Rp 35.000 per orangnya dan langsung on the way ke arah Ranu Pani. Diperjalanan kita temui  track dan view yang beragam mulai jalan mulus sawah pepohonan, terjal, Bromo yang berbunga, sampai track yang gak muasuk akal.

Sesawahan

Bunga lagi hehe

Sesampainya di parkiran Ranu Pani kita sempat makan bakso di rumah warga sekitar sambil tanya-tanya sama mas-mas porter tentang Semeru saat ini, katanya lagi ditutup karena lagi ada dua orang hilang. Udah lama ga muncak kangen Semeru hufffttttttttt. Kita langsung parkir dan jalan ke Ranu Pani sekaligus Ranu Pani dan memang sudah rezeki ternyata banyak spot yang berbunga-bunga.





Ranu Regulo sedang sepi-sepinya cuman ada beberapa orang yang camp dan satu rombongan foto untuk pre-wedding, kabut juga sedang tebal-tebal nya. Mbak Talita langsung sumringah!


Ranu Regulo


Foto ala-ala duluu

Ranu Pani & Regulo berjarak cukup dekat, mungkin ga sampai satu kilometer (kayaknya lho ya), soalnya emang deket banget dan view nya pun ga jauh beda. Mungkin saya udah berkali-kali ke dua ranu ini karena kalo main ke Bromo kadang mampir, kalo mau ke Semeru juga pasti ngelewatin dua ranu ini.

Ranu Pani 


Kawasan TNBTS emang ga monoton, di dalamnya banyak banget destinasi yang bisa kalian pilih dan searah. Sejauh ini yang pernah saya kunjungi ya Bromo serta bukit teletubies nya, Semeru, Ranu Kumbolo, Ranu Pani, Ranu Regulo, dan Coban Pelangi. Jadilah pulang dari sini kita ke Coban Pelangi buat asah fisik karna udah lama ga trekking.

Setelah +- satu jam trekking

Kabutnya seksiii
hehe

Wawa Yasaruna's

24.1.17

Menyusuri Pacitan


Pergi jauh dari rumah adalah hal yang sangat membuat saya refresh kembali, meskipun capek tapi gatau kenapa pergi jauh bikin otak saya beristirahat lebih dibandingkan saya tidak melakukan apa-apa di rumah. 

Sekitaran Mei 2016 saya beserta teman-teman SMA main ke Pacitan dan beruntungnya ada rumah Nenek dari Ghazi yang memberi kita tumpangan untuk beberapa hari, Berangkat dari Malang kita motoran sejauh +- 241,1 KM (kata Mbah Google,sih). 

Tahun 2014 saya uda pernah main-main ke Pacitan naik bus dan sewa ojek ke beberapa destinasi ; Pantai Klayar, Pantai Banyutibo sebelum hits, Goa Gong. Kali ini lebih rame perjalanannya karena kita berenaman dan lebih fleksibel karena bawa kendaraan sendiri. 

Hal yang ada dibenak saya ketika mendengar Pacitan adalah ; pantai, batu akik, dan Presiden SBY. Sengaja tidak membuat itinerary dan ternyata lumayan menyenangkan juga hehe. Apa aja yang bisa kalian lakukan di Pacitan ?

Main ke Pantai dong !

Pacitan sebenarnya lebih dikenal dengan "Kota 1001 Goa". Nggak ngitung sih, tapi kalo diitung beneran mungkin lebih dari 1001 soalnya sepanjang perjalanan sering banget lihat goa-goa kecil gitu. Hal yang lebih menarik hari saya adalah pantainya, tipikal pantai selatan dengan warna biru bersih dan ombak yang lumayan ganas. Saya menyusuri beberapa Pantai di Pacitan diantaranya Pantai Banyutibo & Klayar (lagi, dengan situasi yang beda tentunya), Pantai Srau, dan Pantai Telengria. Masing-masing punya keistimewaan, sih. 

Pantai Banyutibo Ketika Pasang

Dua tahun lalu saya mengunjungi pantai yang sudah lumayan kondang ini waktu masih sepi-sepinya dan akses masih susah, belum ada warung-warung di tepian pantai dan saya masih bisa turun ke air terjun lepas lautnya. Telisiklah disini. Dikarenakan sedang pasang, kunjungan ke Banyutibo kali ini ngeliatin ombak ganas pantai selatan saja tanpa tujun menikmati Pantai Banyutibo dari bawah. Akes sudah gampang banyak petunjuk arah, fasilitas lengkap, serta tiket masuk murah sekitar Rp 10.000.






Pantai Buyutan

Sampai di Pantai Buyutan karena iseng melihat plang "Pantai Buyutan belok kiri", sebelumnya memang sama sekali belum pernar mendengar nama pantai yang ternyata eksotik ini. Sebenarnya tidak begitu tertarik, namun karena penasaran dan searah akhirnya kesini dan.... taraaa !

view dari atas




Eksotik banget dan sepi! Bebatuan super besar itu karena kikisan ombak-ombak yang berketerusan jadinya kaya membentuk batu batu eksotik gitu (sumber dari papan yang ada di Pantai Buyutan). Di pantai itu cuma ada kita berenam sama penjaga parkir ataupun pedangan di warung-warung tepi pantai. Ditambah lagi harga kelapa muda yang satu buahnya hanya lima ribu rupiah wuuuuu segar. Bukan segelas lho ya, tapi sebuah, Karcis masuknya kisaran sepuluh ribu rupiah juga, murah meriah.

Pantai Klayar ketika Matahari Tenggelam

Hal yang saya kunjungi untuk kedua kalinya pula! Kalau 2014 saya ke Pantai Klayar di siang hari sehingga terlihat sangat eksotik bisa dilihat disini. Kali ini saya lihat versi sendunya ketika matahari mulai turun pelan-pelan. 



Pantai Srau 

Pertama kalinya saya main ke Pantai Srau sih, sebenernya pantainya sama kaya pantai-pantai lainnya cuman... sedikit kotor huhu. Saya dan team cuma duduk duduk saja sembari nikmatin angin lalu ketika sudah mulai bosen ya otewe lagi cari destinasi. FYI karcis masuknya hanya lima ribu rupiah!





Menikmati Sunset di Pantai Teleng Ria

Pantai yang terletak di dekat kota ini mempunyai pemandangan metahari terbit yang apik. Akses  mudah serta banyak banget warung-warung yang berjualan seafood (bisa frozen food, bisa juga makanan siap saji) membuat Pantai Teleng Ria menjadi sasaran wisatawan luar kota untuk bervakansi bersama keluarga. Harga tiket masuknya cukup mengecewakan karena mahal banget, per orang kena tiga puluh ribu rupiah :( Yaa mungkin karena emang udah terfasilitasi dan jadi tempat wajib event-event di Pacitan. 

Meskipun disini tempat yang asyik buat liat matahari terbit, tapi matahari terbenamnya ga kalah kok!



Jajan di Alun-Alun Pacitan

Sewaktu pulang dari Pantai kita berenam sempat cari tempat untuk ngopi di Maps dan empat kali tempat yang kita datengin zonk. Sampai-sampai punya cita-cita buat bangun tempat ngopi di Pacitan huff. Akhirnya kita ke Aalun-Alun daaaan sepiiii banget padahal hari Sabtu. Padahal makanan disana murah dan beragam. Saya ngejajan banyak mulai dari sosis, tahu rasa, ketan (cuma lima ribu rupiah porsi dan toppingnya buanyak, beda sama di Batu), dan eskrim. Mencari pokemon disini lebih gampang daripada mencari muda-mudi -_-

Makan Seafood Sepuasnya !

Dikarenakan Pacitan kaya banget akan laut sehingga bangsa ikan-ikanan melimpah banget. Dasarnya di Malang jarang makan ikan laut jadinya ketika disini berasa mewah. Makan seafood sepuasnya dengan harga super murah heuheu.



Mungkin lain kali harus menyusuri goa-goa dan batu akik Pacitan ya.

hehe

Wawa Yasaruna's

23.1.17

2016 Usai !

Selamat tahun baru 2017 semua!
Terlalu banyak hal yang saya lakukan di tahun ini sehingga banyak beberapa kegiatan yang harus vakum seperti cerita-cerita pengalaman saya di blog ini. Balik sebentar ke tahun 2016 yang menurut saya berjalan lumayan lamban, banyak perubahan cukup besar yang saya alami mulai dari masalah personal hingga kerjaan. Yang jelas, saya nggak ada henti-hentinya bersyukur di tahun ini!

2016 saya minim akan resolusi-resolusi yang (biasanya) selalu saya buat di awal tahun. Nyatanya ? Semua berjalan apa adanya namun tanpa satu tujuan yang jelas, semua mengalir terlalu deras sampai-sampai saya nggak tahu value apa yang saya dapet di tahun ini.

Dengan tekad bulat (di akhir) bulan Januari ini saya akan menghabiskan semua draft blog yang sempat tertunda serta mengubahnya menjadi postingan yang lebih informatif aja gitu. Kalau dipikir-pikir dari pertama saya nulis blog rasanya gak ada yang berubah, serba kekanak-kanakan. Mungkin memang niat diawal saya menulis blog ini untuk arsip hidup saya kelak bila nantinya saya lupa akan suatu hal, saya bakal buka blog ini dan membaca ulang kisah hidup saya sendiri. Nyatanya bukan hanya saya yang menikmati tulisan ini untuk dibaca, setelah melihat viewers yang tertera di blog saya akhirnya saya sadar kalo blog ini juga dikonsumsi orang lain meskipun nggak banyak. Banyak memang yang sudah saya lalui di 2016, namun untuk merapikan semua itu belum.

Lalu apa yang ingin Wawa wujudkan di 2017 ?

Biar jadi rahasia buku diary Wawa saja. Yang penting Wawa sangat senang bisa travelling ke banyak kota di tahun ini, bertemu banyak orang baik, sedikit berpenghasilan, dan nonton banyak konser di akhir tahun. Semoga tahun ini lebih baik dan bermanfaat untuk kita semua ya !

salam,



Wawa Yasaruna's