3.12.14

Desember

Slalu ada yang bernyanyi dan berelegi dibalik awan hitam

Desember datang lagi.
Tigaratus enampuluh derajat senjang dengan segala sejuk dan rintikan.
Ternyata dua pasang kaki itu, segala juang kentara itu dan segala problema itu masih gemar mondar mandir di mimpi mimpiku.
Memandang dejavu dari berbagai sisi memang salah satu keindahan diam , tak lupa jutaan luka puan.
Desember selalu membuka gerbang kepada gerakan yang berbeda pada ronde selanjutnya.
Semesta, telah berkehendak.

Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini, menanti seperti pelangi setia menunggu hujan reda

Kepada setiap senjang dan spasi antara engkau dan aku , hanya tanda sama dengan yang kini aku nanti. Petaku tak tentu. Terjagalah engkau, saya mohon terjagalah.

Aku selalu suka sehabis hujan dibulan Desember... Dibulan Desember....

Ketika saya termenung bahwa, kamu pasti masih mencintai hujan dalam kisahmu sendiri. Saya masih merindu akan sejarah dan segala diorama kita dulu, jua masih akan terus berharap akan melalu segala rintik, deras, bahkan badai bersamamu lagi.Apabila suatu saat kau temui lagi berbagai persimpangan , jangan pernah lupa jalan pulang ; untuk menemuiku lagi dikemudian hari.

Sampai nanti ketika hujan tak lagi meneteskan duka meretas luka
Sampai hujan memulihkan, luka.

hehe.

Wawa Yasaruna's

No comments:

Post a Comment