17.5.18

Makanan Lokal Ternate, Surganya Rempah Indonesia

Sembari mengingat-ingat semua makanan yang masuk mulut waktu itu... HUEE kan jadi ngiler :(

Satu post yang terlewat lumayan lama karena memang bingung harus memulai dari mana saking banyaknya makanan yang saya coba di Ternate. Sebagai pusat rempah-rempah pada jaman kolonial  sehingga makanan olahan disini menurut saya memang kontras sama makanan yang biasa saya makan di Jawa, disini kaya akan rempah sekali.

Kondisi geografis kota sejarah ini juga sangat mempengaruhi apa yang diolah menjadi masakan, cari ayam disini susah banget dan mahal luar biasa. Sebaliknya, ikan dan hal-hal per-seafood-an lain melimpah ruah, jadi lauk pauk didominasi ikan-ikanan. Yum!

Begitu sampai di Ternate makanan pertama yang saya coba itu kudapan-kudapan lokal aliasnya jajanan pasar. Ada tiga macem yang disajikan yaitu palampa, pisang choe, dan pia ternate. Palampa sendiri ternyata adalah lemper tapi versi lebih pipih serta ada isian ikan, bedanya kalau di jawa kan tebal dan berisi ayam gitu hehe. Lalu pisang choe sendiri semacam bolu dengan dominasi rasa pisang, enak pokoknya agak ada rasa-rasa tape nya juga. Yang paling faforit  dan setiap sarapan  wajib diambil duluan diantara ketiganya ya si palampa itu.

Pisang choe ft palampa ft bakpia 

11.5.18

Pengalaman Melawan Badai di Kenawa

Siapa yang bakal menyangka saya bakal bisa menginjak tanah Sumbawa ?

Sampai detik ini pun saya masih geleng-geleng kalau mengingat perjalanan motoran sampai Lombok bahkan bonus ke pulau kecil di Sumbawa Barat yang lebih sering di sapa Pulau Kenawa. Bisa banget ngakalin perjalanan yang super low budget menuju kesini dengan melakukan perjalanan darat atau istilah umum nya ngecer.

Sebenarnya karena Kenawa ini mulai ramai pengunjung dan terfasilitasi, menuju ke sini cukup mudah untuk mendapatkan informasi mulai dari Blog hingga Instagram. Tapi lebih aman lagi kalo kesini bareng orang Lombok asli soalnya kita gak paham bahasa serta keadaan disana. Sangat beruntung waktu itu sepupu-sepupu Kak Ine (salah satu teman organisasi di kampus yang asli Lombok) mau nemenin ke Kenawa sehingga rencana awal yang serba ribet jadi terasa lebih mudah, tingkyu Kak Inek beserta jejeran sepupu!

Dari Lombok kita menuju Pelabuhan Kayangan dan nitip motor disana, setelahnya beli tiket menuju Pelabuhan Poto Tano Sumbawa dengan harga Rp 17.000 saja untuk satu orang tanpa motor. Kalo lagi beruntung kalian bisa dapet kapal dengan layanan VIP kayak saya waktu pulangnya, berangkatnya dapet kapal standart sepaket dengan hiburan karaoke yang memekakkan telinga. Berangkat kutang lebih pukul 15.00 WITA kita dapet pemandangan yang jarang banget ditemui di Jawa, dimulai dari gagahnya Rinjani sampai siluet pulau-pulau kecil di seberang, epic!

15.4.18

One Day in : Solo

Memang Kota Solo tidak sepadat Yogyakarta dari sisi pariwisatanya, namun icon Jawa Tengah ini kaya banget akan heritage dan hal-hal berbau sejarah lainnya. Menuju ke kota batik ini bisa pakai bis maupun kereta, mana sekarang terminalnya bagus bangeeet, era Bapak Jokowi menjadi walikota Solo dibenahi habis-habisan. Saya merasakan kok perubahannya yang sangat signifikan, dulu terminalnya bener-bener kumuh bahkan gak jarang tikus segede-gede kucing seliweran dan sekarang udah rapih ala-ala bandara gitu hehe.

Kalau untuk transportasi umum sudah difasilitasi pemerintahan setempat dengan Batik Solo Trans (BTS) dan juga angkot, tapi kalo gamau ribet sekarang udah marak ojek online untuk opsi alternatif lain.

Rekomendasi Wawa untuk seharian di Solo ada apa aja ?

Keraton Solo

Meskipun bukan sessesu yang baru  tapi jangan sampai melewatkan Keraton,  karena masih lestari dan berfungsi sampai sekarangs  Selain itu dengan mengunjungi kawasan ini kita jadi turut mengakui heritage nya Indonesia khususnya daerah Jawa. Cocok juga untuk wisatawan yang sekedar pingin foto-foto lucyu. Btw saya terakhir kesana tahun 2013 heheeeee.....

sisa-sisa foto yang ada heuu