10.9.17

Eratnya Budaya Tiang Tengger

Tiang Tengger atau biasa di kenal dengan orang Tengger, merupakan sekumpulan masyarakat  yang berada di daerah Gunung Bromo.  Menurut sejarahnya suku Tengger diyakini merupakan keturunan terakhir kerajaan Majapahit, ketika masyarakat Hindu mulai terdesak oleh kedatangan agama Islam di Jawa mereka memutuskan untuk mengungsi ke wilayah Bali serta pedalaman Gunung Bromo dan Semeru. Nama “Tengger” sendiri berasal dari kedua nama leluhur sepasang suami istri Roro Anteng serta Joko Seger. Yang mana kata Tengger di ambil di akhiran nama Roro Anteng yaitu “Teng” dan Joko Seger yaitu “Ger” dimana mereka merupakan  pemimpin terakhir Majapahit.

Masyarakat  Tengger menempati kaki hingga pedalaman kawasan Bromo, Tengger Semeru, tersebar mulai dari Probolinggo, Lumajang, Ranupane, Malang (Desa Ngadas), hingga Pasuruan. Salah satu desa yang masih memegang teguh adat Tengger ialah Desa Wonokitri, Tosari, Pasuruan, Jawa Timur, desa terakhir sebelum penanjakan Bromo via jalur Nongkojajar. Mata pencaharian utama warga Desa Wonokitri adalah bercocok tanam, berladang dan berternak. Mereka lebih banyak menaman sayuran seperti wortel, kubis, dan kentang yang sesuai dengan suhu dataran tinggi Bromo. Wisatawan akan lebih sering menjumpai ternak babi daripada ternak lainnya di desa yang mayoritas menganut agama Hindu ini.

Dinginnya suhu di kawasan ini menyebabkan sarung menjadi sebuah kebutuhan bahkan merupakan peninggalan yang ajeg dari nenek moyang suku Tengger. Suku Tengger mempunyai ciri khas khusus dalam hal berpakaian dengan cara memakai sarung sebagai outer dalam kesehariannya. Sarung atau nyasar wurung berfilosofi dapat menggagalkan marabahaya yang mengancam.


“Sarung merupakan tameng raga yang diwariskan oleh leluhur”

begitu ujar Bapak Supayadi (63) selaku dukun pendita atau kepala adat Suku Tengger di Desa Wonokiti. Tidak dapat dipungkiri sarung hingga kini menjadi gaya hidup karena dapat melindungi diri dari hawa dingin, seluruh kalangan telah mengenakan sarung sebagai  identitas suku Tengger.

Mbok Jurasi dan cucu
Bapak Supayadi selaku dukun pendita suku tengger Wonokitri
Memanen kentang
Cara bersarung bagi suku Tengger mempunyai makna tersediri tergantung kondisi dan arti dalam pemakaian sarung yang beragam. Berikut cara bersarung masyarakat tengger  :
  • Kekaweng: Sarung dilipat dua kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat menjadi satu. Cara bersarung seperti ini digunakan untuk kegiatan sehari-hari yg membutuhkan keleluasaan bergerak seperti ke pasar dan mengambil air. Jika bertamu atau melayat tidak diperkenankan bersarung kekaweng
  • Sesembong: Dipakai dengan cara dilingkarkan ke pinggang kemudian diikat di antara dada dan perut agar tidak mudah lepas. Biasa digunakan ketika melakukan pekerjaan yang lebih berat seperti berladang.
  •  Sempetan (atau sempretan dalam bahasa Jawa): Sarung digunakan seperti biasa dan dilipat di bagian pinggang. Hal ini menunjukkan sopan santun ketika sedang bertamu
  • Kekemul: lebih sering digunakan bersantai atau sekedar berjalan-jalan, biasanya sarung dipakai di badan. Bagian atas dilipat untuk memutupi kedua tangan dan digantungkan di bahu.
  • Sengkletan: Ketika berpergian dan ingin terlihat rapi, sarung disampirkan di bahu secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada. 
  • Sampiran: Anak-anak muda Tengger juga punya cara bersarung lho! Kain disampirkan di bagian atas punggung, kemudian kedua lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan dengan kedua tangan.
Dalam keseharian tiang tengger selalu dijumpai pengenaan sarung, salah satunya saat terdapat persiapan potong kuncung atau tugel kuncung. Potong kuncung sendiri adalah ritual khitan-nya anak laki-laki maupun perempuan di Desa Wonokitri untuk anak-anak sebelum menginjak umur 15 tahun. Upacara ini wajib dilakukan apabila telah mampu secara materi karena memerlukan biaya yang besar, namun apabila tidak memiliki materi yang cukup tidak diwajibkan. Terdapat beberapa ritual seperti punden-punden, mepek (ritual), serta potong kuncung (memotong rambut). Persiapan potong kuncung sendiri memakan waktu yang cukup lama sekitar satu minggu dan dibantu oleh tetangga setempat mulai dari masak atau betek dan persiapan lainnya, berikut beberapa gambar persiapan potong kuncung oleh suku tengger tentunya masih dengan menggunakan sarung :

Sulistina (12) dan Marsha (7) yang akan potong kuncung




Pemotongan daging babi sebagai sesajen potong kuncung

Betek atau biyodo


Wanita Tengger



Begitu melekat sarung dengan warga tengger sehingga merasa tidak lengkap berbusana tanpa sarung, kaum laki-laki menggunakan sarung serta kaum perempuan menggunakan jarik atau biasa disebut sewek. Meskipun begitu terdapat banyak perubahan seperti cara bersarung anak muda yang bermacam-macam. Perbedaan cara mengikat sarung bagi perempuan dapat ditunjukkan dari ikatannya, bila diikatkan di samping tandanya masih lajang dan apabila diikatkan ditengah menandakan telah menikah.Meskipun dewasa ini banyak pembaharuan teknologi serta pengaruh dari luar kawasan desa namun masyarkat tengger tetap memegang teguh budaya. 

Wawa Yasaruna's

8.9.17

Wajah Baru Kawah Ijen


Terakhir ke Kawah Ijen sekitar tahun 2013 dan lucky me bisa kembali ke salah satu aset Indonesia lewat blue fire nya ini di awal tahun 2017! Baiknya trekking menuju kawah dengan ketinggian 2799 mdpl ini dinihari sekitar pukul 01.00-02.00 untuk bisa lihat api birunya, tapi waktu itu saya mulai trekking sekitar setengah empat-an jadi gadapet deh hehe.

Saya cukup dibuat kaget sama beberapa perubahan seperti mahalnya tiket masuk kawah ijen (waktu itu ditarik sekitar 25.000 padahal di internet gasampe 10.000!) serta banyaknya gerobak yang lalu lalang untuk mengangkut belerang bahkan wisatawan. Urusan gerobak ini saya bener-bener kaget soalnya sekarang wisatawan yang emang males jalan bisa didorong gerobak penambang dengan merogoh kocek cukup mahal, sekitar lima ratus ribu sampai satu juta rupiah. Gerobak-gerobak ini cukup laris, kebanyakan para lansia dan anak gaul dengan style ootd yang menggunakan jasanya. Atau jangan-jangan saya aja yang kudet?

The gerobaks
Tapi menurut saya pribadi memang gerobak ini sangat memudahkan serta menambah penghasilan para penambang. Satu kilogram belerang hanya dihargai seribu rupiah jadi penambang lebih banyak mendapat penghasilan dari "mendorong" wisatawan baik naik maupun turun kawah, biasanya satu gerobak didorong oleh dua penambang.

Panorama Kawah Ijen masih tetep cakep kaya dulu, mungkin yang bikin beda ya lebih ramai karena akses lebih mudah  dengan gerobak. Dulu kan kalo emang ga kuat ya ga bakal sampai di tempat ini karena harus trekking cukup panjang dan nanjak. Menuju kawah sebelah bawah juga tetap dihiasi para penambang naik turun dengan memikul belerang.

Semangat mas !
Detail belerang


Sebenernya yang sangat dirindukan adalah tebing-tebing putih kawah yang emang jarang dijumpai di negri kita, ala-ala salju gitu haha. Eh iya sekarang ada masker untuk terhindar dari asep belerang yang bikin sesak nafas, jaman saya dulu pake masker biasa yang dijual di supermarket dan blm difasilitasi seperti sekarang. Meskipun  ga dapet bluefire tapi tetep senang!



cantik!
FYI saya kesana berdua ajah sama Niyya salah satu teman sekelas di kuliahan, waktu foto-foto dikawah ketemu mas-mas dari Surabaya yang berbaik hati motoin kita waktu lagi kesusahan selfie berdua. Tapi mas-mas ini sedikit misteri, karena sampai sekarang kita ga ngerti siapa namanya bahkan seperti apa wajahnya :(


Senang bisa bertemu lagi, Kawah Ijen!

hehe

Wawa Yasaruna's